Menimbang Hukum Asuransi Dalam Islam

Banyak dari kita merasakan keraguan saat akan membeli polis asuransi. Keraguan tersebut boleh jadi berkaitan dengan kepercayaan yang kita anut. Apakah agama memperbolehkan praktik jasa asuransi dan pemanfaatannya? Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan kita diskusikan dalam kesempatan ini.

Istilah Asuransi Umum

Dewasa ini, istilah asuransi umum dikenal sebagai jaminan yang diberikan oleh pihak pemberi jaminan kepada pihak penerima jaminan atas sejumlah harta pasca terjadinya musibah atau kecelakaan. Pembayaran jaminan sendiri dilakukan sesuai dengan ketentuan perjanjian yang dijalin oleh kedua belah pihak. Cakupan penjaminan ini meliputi penjaminan atas sejumlah harta, berupa properti bergerak atau tidak bergerak. Item-item properti bergerak misalnya manusia, meliputi asuransi kesehatan, kematian, persalinan, kecelakaan kerja, kecelakaan saat perjalanan, hingga organ-organ tubuh seperti pita suara untuk penyanyi atau asuransi kaki untuk atlet sepakbola. Adapun item-item properti pasif yang tidak bergerak meliputi rumah, bangunan, kantor, tanah, mesin, pabrik, peralatan kerja, dan lain sebagainya. Pendeknya praktik asuransi modern mencakup hampir seluruh penjaminan yang bisa diajukan seseorang kepada penyedia layanan asuransi, baik perusahaan atau asuransi yang disediakan oleh pemerintah. Lantas bagaimana sebenarnya ketentuan atau hukum asuransi dalam Islam?

Dalam definisi di atas, praktik asuransi sebenarnya meliputi hal-hal substantif berikut ini. Pertama, bentuk dan jumlah jaminan yang akan diberikan oleh piha perusahaan asuransi. Kedua, pembayaran atas musibah atau resiko yang menimpa seseorang yang telah mengajukan penjaminan atau perlindungan atas diri, harta, dan segala aspeknya, pada saat tertimpa musibah. Ketiga, adanya sejumlah biaya atau pembayaran yang harus dibayar oleh nasabah secara rutin kepada pemberi jaminan.

Asuransi Menurut Pandangan Sarjana Islam

Sarjana-sarjana Islam seperti Prof. Dr. Ali Ahmad As-Saaluus mengkategorikan asuransi kedalam beberapa katagori. Kategori yang pertama adalah asuransi yang dikenal dengan At-Ta’miin at-Tijaariy. Yaitu asuransi yang semata-mata ditujukan untuk mencari uang dan kental dengan nuansa spekulatif. Dalam praktiknya asuransi seperti ini cenderung sering merugikan salah satu pihak yang terlibat dalam perjanjian asuransi. Jenis praktik asuransi seperti ini marak terjadi dewasa ini, dimana tujuan atau motif terpenting dari asuransi adalah semata-mata pencarian keuntungan. Praktik asuransi seperti ini biasanya ditandai dengan (1) asuransi yang memiliki angsuran yang pasti; (2) angsuran ini otomatis menjadi milik perusahaan asuransi sebagai ganti atas pembayaran yang akan ditanggung jika terjadi musibah; (3)Jumlah pembayaran kepada perusahaan lebih tinggi dari potensi klain atas penjaminan; dan (4) apabila tidak terjadi musibah, maka angsuran itu otomatis akan menjadi milik perusahaan tanpa ganti apapun.

Kategori kedua adalah apa yang disebut At-Ta’miin at-Ta’aawuniy. Secara harfiah artinya asuransi yang ditanggung secara bersama-sama atau atas dasar gotong royong. Ciri-ciri terpenting dari praktik asuransi ini adalah bahwa layanan asuransi tidak ditujukan semata-mata atas dasar niat mencari keuntungan material belaka, melainkan juga berisikan motif yang jauh lebih tinggi seperti keinginan untuk menolong pihak-pihak yang berada dalam kesusahan. Praktik asuransi seperti ini diperbolehkan berdasarkan perspektif hukum islam. Praktik asuransi ini misalnya terjadi ketika sekelompok orang bersama-sama mengumpulkan uang, dengan tujuan untuk membantu orang yang terkena musibah. Perusahaan asuransi islam, tidak otomatis memiliki uang angsuran dari nasabah, uang yang dibayarkan ketika terjadi musibah itu pun bukan milik perusahaan, namun milik bersama. Perusahaan ini hanya berperan menyimpan, mengembangkan, dan memberikan bantuan.

Kategori ketiga adalah At-Ta’miin al-Ijtima’iy atau apa yang dewasa ini kita kenal sebagai jaminan keamanan sosial yang biasanya diprakarsai negara. Asuransi ini bukan asuransi yang bersifat mencari keuntungan, melainkan bertujuan untuk membantu orang banyak. Asuransi sosial biasanya berupa jaminan pensiun, jaminan saat sakit, dan lain sebagainya. Pada jaminan pensiun, negara biasanya memotong gaji dan mengelola dana pensiun tersebut. Kelak, gaji yang terpotong tersebut dibayarkan sebagai dana jaminan hari tua. Islam memperkenankan praktik asuransi seperti ini. Demikianlah hukum asuransi dalam islam yang pertama-tama tidak didasarkan atas motif pencarian keuntungan dan spekulasi buta atas resiko, melainkan sepenuhnya ditujukan atas dasar tolong dalam keadaan yang diperlukan. Pada prinsipnya, Islam sangat menjunjung tinggi prinsip tolong menolong dan menolak berbagai praktik yang didasarkan pada perjudian, termasuk perjudian akan nasib sebagaimana banyak dikomodifikasi perusahaan asuransi dewasa ini.

loading...
Loading...
hukum asuransi auara, hukum asuransi pita suara dalam islam

Menimbang Hukum Asuransi Dalam Islam | akbar | 4.5